Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana
Batuk kronik pada anak cukup banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari. Pada pasien anak, gejala batuk yang kronik atau berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mengurangi nafsu makan, dan pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuh kembang. Orang tua juga akan terganggu terutama bila gejal...
| Published in: | Sari Pediatri |
|---|---|
| Main Author: | |
| Format: | Article |
| Language: | Indonesian |
| Published: |
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
2016-12-01
|
| Subjects: | |
| Online Access: | https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/view/895 |
| Summary: | Batuk kronik pada anak cukup banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari. Pada pasien
anak, gejala batuk yang kronik atau berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari,
mengurangi nafsu makan, dan pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuh
kembang. Orang tua juga akan terganggu terutama bila gejala batuk lebih sering dan
lebih berat pada malam hari. Batasan batuk kronik bermacam-macam, ada yang
mengambil batas 2 minggu atau 3 minggu. Ada pula yang membagi batuk menjadi
batuk akut, subakut, dan kronik. Antara batuk kronik dan batuk berulang seringkali
sulit dibedakan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganut batasan tersendiri
yaitu batuk kronik berulang (b.k.b) yang mencakup pengertian batuk kronik di dalamnya.
Dua fungsi utama batuk, pertama sebagai mekanisme pertahanan respiratorik; kedua
sebagai gejala yang mengindikasikan adanya gangguan / kelainan / penyakit di sistem
respiratorik umumnya, dan sebagian di luar sistem respiratorik. Batuk akan timbul bila
reseptor batuk terangsang. Pada anak, berbagai hal, keadaan, atau penyakit dapat
bermanifestasi sebagai batuk. Sebagian besar etiologi berasal dari sistem respiratorik,
sebagian kecil karena kelainan di sistem non-respiratorik. Untuk mendeteksi etiologi
batuk, pemahaman tentang mekanisme batuktermasuk lokasi reseptor batuk sangat
penting diketahui. Dengan pemahaman itu, kita akan tetap ingat bahwa batuk kronik
juga dapat disebabkan oleh kelainan atau penyakit di luar sistem respiratorik. Pasien
anak dengan batuk kronik dibagi menjadi dua kelompok, tanpa kelainan dasar yang
nyata serta anak relatif tampak sehat, dan pasien dengan kelainan respiratorik yang
nyata. Perlu pula diketahui etiologi yang sering timbul pada berbagai kelompok umur
anak. Langkah diagnostik dimulai dari penggalian anamnesis yang mendalam,
pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang yang relevan. Tata laksana batuk kronik
pada anak ditujukan kepada penyakit dasarnya, peran antitusif sangat terbatas. |
|---|---|
| ISSN: | 0854-7823 2338-5030 |
