Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan

Visibelnya asas contrarius actusdalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Masyarakat Menjadi Undang-Undang, memberikan result...

詳細記述

書誌詳細
出版年:Alauddin Law Development Journal
主要な著者: Supardi, Andi Safriani
フォーマット: 論文
言語:英語
出版事項: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2022-08-01
主題:
オンライン・アクセス:https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/aldev/article/view/17217/15440
_version_ 1849687637763293184
author Supardi
Andi Safriani
author_facet Supardi
Andi Safriani
author_sort Supardi
collection DOAJ
container_title Alauddin Law Development Journal
description Visibelnya asas contrarius actusdalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Masyarakat Menjadi Undang-Undang, memberikan resultan terhadap eksistensi Organisasi Masyarakat di Indonesia. Konsekuensi logisnya adalah hilangnya asas due process of lawsehinggadalam pembubaran Ormas tidak melalui mekanisme pengadilan lagi. Hadirnya asas contrarius actus dan hilangnyaasas due process of lawbukanlah masalah semantik atau gramatik semata, melainkan juga menyangkut masalah yang subtantif dan paradigmatik. Terlihat jelas pertentangan dari kedua asas hukum tersebut. Sehingga pokok masalah dalam penelitian ini adalah menyoal antinomi asas asas contrarisu actusdengan asas due process of law dalam pembubaran organisasi masyarakat. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) yang berdasarkan pada penelitian normatif (normative legal research). Pun secara metodik penelitian ini berjenis evaluatif formatif. Dengan metode pendekatan conceptual approach dan pendekatan comparative approach. Penulis dalam menggunakan pendekatan perbandingan, menekankan pada skenario riset dan studi comparative lawagar dalam penelitian ini menghasilkan penyatuan sistematik dan harmonisasi hukum, dengan mengelaborasi sumber primer yang berasal dari Peraturan Perundang-Undangan yang terkait dan sumber sekunder yang berasal dari literatur yang relevan dengan masalah yang diteliti.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Antinomi asas contrarius actusdengan asas due process of lawterletak pada penerapan asas tersebut. Due process of lawmenekankan pada proses hukum yang adil serta melindungi hak-hak fundamental warga negara dengan mengharmonisasikan antara hukum subtantif dan hukum prosedural. Sedangkan asas contrarisu actusatau consensus contrarius menghendaki adanya tindakan sepihak oleh Pemerintah berdasarkan atas kewenangannya untuk menghilangkan status dalam aktivitas tertentu. Implikasi dari penelitian ini adalah Menghilangkan asas contrarius actusdalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Ormas dengan menggantikannya dengan asas due process of law dan memberikan kewenangan pembubaran Organisasi masyarkat kepada Mahkamah Konstitusi sebagai court of lawatau pada lingkup Mahkamah Agung dalam hal ini peradilan umum sebagai court of justice
format Article
id doaj-art-50dec5e0ee164e8e8a65bceda395ebaa
institution Directory of Open Access Journals
issn 2714-8742
2686-3782
language English
publishDate 2022-08-01
publisher Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
record_format Article
spelling doaj-art-50dec5e0ee164e8e8a65bceda395ebaa2025-08-20T02:09:40ZengUniversitas Islam Negeri Alauddin MakassarAlauddin Law Development Journal2714-87422686-37822022-08-014Vol. 4 No. 2 (2022): ALDEV277293https://doi.org/10.24252/aldev.v4i2.17217Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses PengadilanSupardi0Andi Safriani1Universitas Islam Negeri Alaudin MakassarUniversitas Islam Negeri Alaudin MakassarVisibelnya asas contrarius actusdalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Masyarakat Menjadi Undang-Undang, memberikan resultan terhadap eksistensi Organisasi Masyarakat di Indonesia. Konsekuensi logisnya adalah hilangnya asas due process of lawsehinggadalam pembubaran Ormas tidak melalui mekanisme pengadilan lagi. Hadirnya asas contrarius actus dan hilangnyaasas due process of lawbukanlah masalah semantik atau gramatik semata, melainkan juga menyangkut masalah yang subtantif dan paradigmatik. Terlihat jelas pertentangan dari kedua asas hukum tersebut. Sehingga pokok masalah dalam penelitian ini adalah menyoal antinomi asas asas contrarisu actusdengan asas due process of law dalam pembubaran organisasi masyarakat. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) yang berdasarkan pada penelitian normatif (normative legal research). Pun secara metodik penelitian ini berjenis evaluatif formatif. Dengan metode pendekatan conceptual approach dan pendekatan comparative approach. Penulis dalam menggunakan pendekatan perbandingan, menekankan pada skenario riset dan studi comparative lawagar dalam penelitian ini menghasilkan penyatuan sistematik dan harmonisasi hukum, dengan mengelaborasi sumber primer yang berasal dari Peraturan Perundang-Undangan yang terkait dan sumber sekunder yang berasal dari literatur yang relevan dengan masalah yang diteliti.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Antinomi asas contrarius actusdengan asas due process of lawterletak pada penerapan asas tersebut. Due process of lawmenekankan pada proses hukum yang adil serta melindungi hak-hak fundamental warga negara dengan mengharmonisasikan antara hukum subtantif dan hukum prosedural. Sedangkan asas contrarisu actusatau consensus contrarius menghendaki adanya tindakan sepihak oleh Pemerintah berdasarkan atas kewenangannya untuk menghilangkan status dalam aktivitas tertentu. Implikasi dari penelitian ini adalah Menghilangkan asas contrarius actusdalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Ormas dengan menggantikannya dengan asas due process of law dan memberikan kewenangan pembubaran Organisasi masyarkat kepada Mahkamah Konstitusi sebagai court of lawatau pada lingkup Mahkamah Agung dalam hal ini peradilan umum sebagai court of justicehttps://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/aldev/article/view/17217/15440contrarius actusdue process of lawpembubaran ormas
spellingShingle Supardi
Andi Safriani
Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan
contrarius actus
due process of law
pembubaran ormas
title Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan
title_full Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan
title_fullStr Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan
title_full_unstemmed Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan
title_short Antinomi Asas Contrarius Actus Dengan Asas Due Process of Law Dalam Pembubaran Organisasi Masyarakat Tanpa Melalui Proses Pengadilan
title_sort antinomi asas contrarius actus dengan asas due process of law dalam pembubaran organisasi masyarakat tanpa melalui proses pengadilan
topic contrarius actus
due process of law
pembubaran ormas
url https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/aldev/article/view/17217/15440
work_keys_str_mv AT supardi antinomiasascontrariusactusdenganasasdueprocessoflawdalampembubaranorganisasimasyarakattanpamelaluiprosespengadilan
AT andisafriani antinomiasascontrariusactusdenganasasdueprocessoflawdalampembubaranorganisasimasyarakattanpamelaluiprosespengadilan