Transformasi Spiritual dalam Konteks Modernitas: Telaah Praktik Spiritual Tarekat Maulawiyah dan Relevansinya terhadap Modernitas

Modernitas ditandai dengan kemunculan Rasionalisme, Empirisme, dan mencapau puncaknya pada gerakan filosofis Positivisme. Positivisme merupakan gerakan filosofis yang berupaya membersihkan sains dari berbagai macam bentuk spekulasi metafisis. Sebagai upaya tersebut, Positivisme memberi pendasaran ep...

詳細記述

書誌詳細
出版年:Spiritualita
主要な著者: Tia Sari, Richo Bintang Mahendra
フォーマット: 論文
言語:インドネシア語
出版事項: Institut Agama Islam Negeri Kediri, Indonesia 2024-12-01
主題:
オンライン・アクセス:https://jurnalfuda.iainkediri.ac.id/index.php/spiritualita/article/view/2580
その他の書誌記述
要約:Modernitas ditandai dengan kemunculan Rasionalisme, Empirisme, dan mencapau puncaknya pada gerakan filosofis Positivisme. Positivisme merupakan gerakan filosofis yang berupaya membersihkan sains dari berbagai macam bentuk spekulasi metafisis. Sebagai upaya tersebut, Positivisme memberi pendasaran epistemologis dengan membatasi pengetahuan manusia pada hal-hal yang bersifat faktual. Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa cara berpikir positivistic tersebut telah menjadi pandangan dunia masyarakat Modern. Nasr menyatakan bahwa hal tersebut secara konsekuensial akan menciptakan ketidakseimbangan antara akal, indra, dan juga mata hati manusia. Sehingga relasi antar manusia dan alam dalam kegiatan saintifik cenderung eksploitatif. Nasr mengusulkan untuk kembali pada Sufisme sebagai jantung agama Islam. Melalui Sufisme manusia mampu mempertajam mata hati, dan menciptakan keseimbangan antara akal, indra, dan juga hati. Tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana Tarekat Maulawiyah dapat mengambil peran dalam mengatasi problematika modernitas tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian Pustaka dengan menggunakan metode analisis Hermeneutik Filsosofis Hans-Georg Gadamer. Metode ini berupaya untuk menghubungkan antara horizon pembaca dan penulis. Melalui penggabungan tersebut, tercipta bildungprozess (pembentukan jalan baru). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ajaran spiritual Tarekat Maulawiyah berupa tari Sema, merupakan praktik spiritual yang mengandung makna berupa pengabdian dan penyerahan diri terhadap Allah dan Rasulullah SAW. Melalui tari Sema, para darwis menunjukkan bagaimana manusia bisa mencapai puncak spiritualitas melalui cinta dan pengabdian. Melalui praktik spiritual yang terartikulasikan melalui tarian sema tersebut, individu dapat mempertajam cahaya mata hati (the Light of Intellect), sehingga mampu menciptakan keselarasan antara akal, indra, dan hati dalam diri manusia modern.
ISSN:2614-1043
2654-7554